Mengenai Saya

Foto saya
Jakarta, Indonesia
Pemerhati dan pelaku pembangunan ulang Pasar tradisional. Ya, itulah saya, yang 5 tahun terakhir konsen untuk mendedikasikan aktivitas bisnis dan Grup usaha dalam rangka melayani pedagang tradisional untuk mendapatkan haknya kembali menikmati Pasar Tradisional yang bersih, nyaman dan aman, layaknya Pasar Modern lainnya. Mereka bisa, seharusnya PASAR TRADISIONAL juga BISA!!!!!!! ITQONI GROUP sudah membuktikannya DUA KALI!!!!

Kamis, 19 Februari 2009

MENDAG: Manajemen Pasar Tradisional harus Profesional

YOGYAKARTA SENIN — Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu mengatakan, manajemen pasar tradisional harus profesional agar dapat bersaing dengan pasar dan toko modern serta memajukan pedagang pasarnya.

"Pasar tradisional harus tetap dikembangkan dan dipertahankan eksistensinya seiring dengan semakin ketatnya persaingan dengan pasar modern. Karena itu penting untuk bisa mengelola pasar tradisional secara profesional dalam memajukan pedagang pasar dan meningkatkan daya saing pasar," kata Mendag saat meresmikan Pasar Piyungan di Yogyakarta, Senin (16/2).
     
Menurut Mendag, berbagai permasalahan dan citra negatif pasar tradisional umumnya terjadi akibat kurang disiplinnya pedagang, pengelola pasar yang tidak profesional, dan tidak tegas dalam menerapkan kebijakan atau aturan terkait pengelolaan operasional pasar.

Selain itu, pasar tradisional umumnya memiliki desain yang kurang baik, termasuk minimnya fasilitas penunjang, banyaknya pungutan liar dan berkeliarannya "preman-preman" pasar serta sistem operasional dan prosedur pengelolaannya kurang jelas.

Untuk mengatasi hal tersebut, Depdag memfokuskan program 2009 pada pembinaan dan revitalisasi pasar tradisional termasuk melakukan pelatihan manajemen pengelolaan pasar tradisional, penyusunan model pembangunan dan pengelolaan pasar, pelaksanaan pos ukur ulang dan perlindungan konsumen.

Depdag telah terlibat dalam pembangunan 31 pasar tradisional dan pasar desa di Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2006, 2 unit pada 2007 dan 2008 dengan total anggaran Rp 46,5 miliar.

Pasar Piyungan yang hancur akibat gempa bumi pada 2006 itu memperoleh anggaran Rp 23 miliar (Rp 17,5 miliar pada 2007 dan Rp 5,5 miliar pada 2008), tetapi realisasi penggunaannya hanya Rp 19.511.500.200.
     
Mendag berharap Pasar Piyungan dapat menjadi contoh pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional di daerah lainnya.

Sementara itu, Bupati Bantul Idham Samawi mengatakan pembangunan kembali Pasar Piyungan dinilai penting karena sekitar 200.000 (14 persen) masyarakat Bantul menggantungkan hidupnya pada pasar tradisional.

Pasar Piyungan seluas tiga hektar itu memiliki sistem pengelolaan sampah yang modern. "Seluruh sampah organik yang keluar dari pasar langsung jadi pupuk organik," ujar Idham.

Pasar yang hancur akibat gempa itu akan mulai dioperasikan pada 26 Februari 2009.

Tidak ada komentar: